Niat Puasa Arafah dan Qadha Ramadhan: Jangan Keliru, Ini Panduan Ringkasnya
Menjelang datangnya bulan Dzulhijjah, banyak umat Islam
mulai menyiapkan amalan sunnah, salah satunya puasa Arafah. Di
waktu yang sama, tidak sedikit juga yang masih memiliki utang puasa
Ramadhan sehingga ingin menunaikan qadha. Karena sama-sama
puasa, sebagian orang mengira niatnya mirip atau bahkan bisa dianggap sama.
Padahal, dari sisi hukum dan tujuan, keduanya berbeda sehingga penting untuk
memahami niat yang tepat.
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang
dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah). Amalan ini sangat dianjurkan
untuk muslim yang tidak sedang berhaji. Sementara qadha puasa Ramadhan adalah
puasa wajib untuk mengganti hari puasa yang tertinggal di
bulan Ramadhan, misalnya karena sakit, haid/nifas, atau perjalanan jauh. Karena
statusnya wajib, qadha punya perhatian lebih soal ketegasan niat.
Kenapa Niat Itu Penting?
Dalam ibadah, niat berfungsi untuk membedakan mana yang
sunnah dan mana yang wajib. Itulah sebabnya niat puasa Arafah tidak bisa
disamakan begitu saja dengan niat qadha Ramadhan. Selain itu, pemahaman
tentang waktu membaca niat juga sering jadi pertanyaan. Banyak
orang baru ingat niat saat mendekati subuh, bahkan ada yang baru niat setelah
pagi. Agar aman, sebagian besar orang memilih niat sejak malam hari, terutama
untuk puasa wajib seperti qadha.
Waktu Niat: Lebih Aman dari Malam
Untuk qadha Ramadhan, kebiasaan yang paling aman
adalah membaca niat pada malam hari sebelum terbit fajar. Sedangkan
untuk puasa sunnah seperti Arafah, ada pembahasan fikih yang lebih longgar pada
sebagian pendapat, selama sejak subuh belum melakukan hal yang membatalkan
puasa. Namun, kalau tujuannya ingin lebih tenang dan menghindari ragu, niat
dari malam juga tetap menjadi pilihan yang baik.
Sering Ditanya: Mana yang Didahulukan?
Jika seseorang masih punya utang puasa Ramadhan, sebagian
memilih menyelesaikan qadha lebih dulu karena itu kewajiban.
Ada juga yang mencoba menyesuaikan jadwal agar tetap bisa meraih keutamaan
Arafah tanpa mengabaikan qadha. Karena ini menyangkut perincian fikih yang bisa
memiliki ragam penjelasan, sebaiknya rujuk panduan yang lengkap dan teks niat
yang jelas agar tidak keliru.